Minggu, 20 Februari 2011

Mukjizat itu Nyata

Dear Friends,

Hari ini, hari Minggu, 20 Februari 2011, saya seharusnya sedang berada di GBI Sungai Yordan, bersama tim pelayanan Youth melayani di Ibadah Umum. Tapi dikarenakan sebuah kejadian yang Tuhan ijinkan terjadi atas saya, saya hari ini menetap di rumah, beristirahat.

Sambil beristirahat saya memutuskan untuk membaca alkitab, renungan, dan berdoa, juga penyembahan menggunakan lagu yang saya dengarkan via youtube. Saat dalam penyembahan itu, dorongan untuk membuat kesaksian secara tertulis ini muncul. Dan akhirnya saya putuskan untuk menulis kesaksian ini di Note Facebook, agar mudah diakses dan menjadi berkat untuk siapapun :). Dan inilah kesaksian saya.

Saat dalam kunjungan kerja ke Bandung, saya pergi bersama Papa saya. Sambil mengerjakan tanggung jawab pekerjaan, saya sempatkan berkunjung ke Green Forest. Sebuah penginapan baru di daerah Sersan Bajuri, lembang. Teman papa saya merekomendasikan tempat ini, karena nuansanya baru dan unik, yaitu penginapan di tebing diantara hutan kecil. Setelah melihat2, kami suka, dan kami putuskan tanggal 13-15 Februari 2011, hari Minggu-Selasa, kami sekeluarga beserta pacar saya akan menginap di tempat ini. Kami putuskan tanggal tersebut, mengingat tanggal 15 februari adalah hari libur, dan kebetulan adik2 saya perkuliahannya sedang libur. Tanggal 15 juga merupakan hari ulang tahun saya :).

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya sudah mengajukan izin kerja untuk hari senin, dan segala sesuatu pun sudah dipersiapkan. Saya sangat excited dengan liburan kali ini, karena selain tempat penginapan kami unik dan baru, saya juga sedang dalam 'tekanan' pekerjaan dan kuliah. Jadi liburan ke bandung kali in cukup kami tunggu-tunggu. Berhubung tanggal 13 Februari jatuh pada hari minggu, jadi kami pergi ke gereja terlebih dahulu dari pagi sampai siang, karena saya dan adik2 saya, juga pacar saya ada pelayanan. Selesai pelayanan kami jalan ke rumah, untuk menaikkan barang2 yang telah disiapkan sebelumnya ke mobil. Segalanya siap, kamipun berangkat ke bandung. Perjalanan lancar, bahkan cenderung lebih lancar dari biasanya.

Singkat cerita kami sampai bandung dengan selamat, dna menikmati malam pertama menginap di tempat tersebut. Segalanya berjalan lancar dan menyenangkan.

Di hari kedua, setelah menikmati sarapan dan indahnya pemandangan pagi itu di tengah hutan 'mini' di puncak kota bandung, kami putuskan untuk berkunjung ke Kampung Gajah yang kebetulan tidak jauh dari penginapan kami. Kurang dari 5 menit kami sudah sampai disana.

Sedikit info mengenai Kampung Gajah. Ini merupakan salah satu tempat yang lagi 'booming' di daerah bandung, dan selalu ramai dikunjungi wisatawan. Dengan area yang cukup luas, dan beragam permainan unik, tempat ini jadi tempat favorit untuk rekreasi keluarga. Tersedia mainan anak-anak yang jarang ditemui di jakarta. Tempat permainannya sendiri terbagi menjadi dua tempat, untuk anak2, dan untuk yang sudah dewasa. Beragam permainan kami coba, karena saya juga punya adik kecil yang baru berusia 5 tahun. Jadi berada di kampung gajah bagai berada di 'surga' dunia baginya. Berikut saya tampilkan beberapa foto Kampung Gajah.




Menyenangkan ya? :)

Seharusnya iya. Tapi disinilah kecelakaan itu terjadi.

Setelah bermain di arena yang dikhususkan untuk anak kecil yang letaknya dibawah, kamipun penasaran, ada apa lagi ya diatas, karena kami sempat bertanya dan diberitahukan diatas adalah arena permainan khusus dewasa. Saat itu jam menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun berjalan ke atas.

Sesampainya diatas, kami cukup terpukau karena melihat lebih beragam lagi mainan yang ditujukan untuk anak yang lebih dewasa/ orang dewasa. Dengan area yang lebih luas, ada arena gokart, permainan segway, flying fox, dan juga ATV. Berhubung waktu sudah menunjukkan waktunya makan siang, kami sempatkan untuk main satu games saja. Permainan yang kami pilih saat itu permainan ATV Lembah, begitu mereka menyebutnya.

Permainan ATV ini tersedia dalam beberapa pilihan. Ada yang ATV lembah, ada ATV yang mengelilingi kampung gajah. Kami putuskan naik ATV lembah. Kami belum ada bayangan traknya akan seperti apa, tapi karena saat itu lebih ramai orang yang menaiki ATV lembah, jadinya kami memilih ATV lembah. ATV lembah sendiri kemudian ada dua pilihan, ATV yang Large, muat untuk 4 orang dewasa, atau ATV yang Small, hanya untuk 2 orang dewasa. Berhubung kami ada 6 orang dewasa dan 1 anak kecil,saya sempat menyarankan untuk menggunakan 1 ATV large, dan 1 ATV small. Komposisinya saya dan adik2 saya (2 dewasa 1 anak), dan pacar saya naik yang ATV Large, dan papa mama saya naik ATV Small. Berhubung harganya cukup mahal (Rp. 175ribu utk yang large, dan Rp. 100ribu utk yg small), dan mama papa saya juga tidak begitu tertarik, akhirnya diputuskan kami hanya menyewa satu ATV large saja.

Setelah mengantri dan membayar, kami harus menunggu antrian mobil ATV large (karena peminatnya banyak), hingga kurang lebih 15 menit. Akhirnya giliran kami pun tiba. Kami diberitahu mendapat 3 putaran. Adik-adik saya yang memang sudah punya SIM, minta giliran untuk mencoba menyetir juga. Saya setujui. Jadi nanti masing-masing orang mendapat 1 putaran.

Kami pun naik dan menyusun posisi duduk kami masing-masing. Saya di paling depan, adik cowok saya disebelah sambil memangku adik kecil kami, dan adik saya yang cewe dengan pacar saya dibelakang. Ini foto kami saat pertama naik.


Saat kami naik, petugas yang mengatur tidak memberitahukan apa-apa soal instruksi mengendarainya. Saya sampai harus bertanya apa yang harus saya lakukan. Saat itu kami cuma naik tanpa diperingatkan soal safety belt. Saya juga tidak terlalu menghiraukan, karena selama menunggu saya melihat banyak yang menggunakan ATV Large, dengan banyak anak kecil di dalamnya. Orang tuanya menyetir di depan, sementara anak2nya yang masih kecil dibelakang. Jadi saat itu saya, bahkan tidak memperhatikan ada atau tidak sabuk pengaman.

Kami pun mulai jalan memutari lap pertama.

Jalannya biasa saja, seperti kompleks perumahan dengan jalan aspal, pinggirnya diisi dengan tanah lapang. Namun agar lebih seru, pihak kampung gajah mengatur rutenya agak berkelok, dan diarahkan ke tanjakan, dan kemudian turunan. Putaran pertama berjalan lancar. Saya sendiri merasa agak kesulitan dengan setirnya yang memang cukup berat saat membelok, dan juga pedal gasnya yang berjauhan dengan pedal rem. Jadi kalau saya tempatkan kaki dibawah, kaki kanan pas di pedal gas, dan kaki kiri pas di pedal rem. Satu susunan yang agak aneh dan sangat tidak biasa untuk sebuah kendaraan. Namun karena saya pikir kendaraan ini pun bentuknya tidak biasa, saya pikir wajar saja, walau saya kesulitan. Selain itu posisi pengemudi di sebelah kiri, dan spion hanya ada di sebelah kanan. Lebih aneh lagi bukan?

Namun sesuai janji saya, putaran kedua saya serahkan ke adik cowok saya. Komposisi duduk pun berubah, saya di belakang sebelah kanan, dengan pacar saya di sebelah kiri saya, di depan adik cowok saya yang mengemudi, disampingya adik cewek saya.

Putaran kedua pun berjalan lancar.

Masuk putaran ke tiga, kami pun mencari tempat dengan landasan rata untuk berhenti (kendaraan ini tidak memiliki rem tangan). Kami berhenti agar bisa tukar posisi kembali. Adik cewek saya gilirannya mengemudi. Posisi duduk pun berubah lagi. Disinilah mukjizat pertama yang Tuhan tunjukkan. Tiba-tiba adik cowok saya tanpa alasan apapun meminta agar pacar saya yang tadinya duduk di samping saya, di sebelah kiri belakang, untuk pindah ke depan duduk di samping adik cewek saya. Dia pun meng-iya-kan walau harus repot2 turun dan memutari mobil. Akhirnya saya pun bergeser jadi menempati tempat duduknya, di belakang kiri, dan adik saya yang cowok menempati posisi duduk saya sebelumnya. Adik kecil saya juga ikut pindah ke belakang dan dipangku oleh saya (mukjizat ke dua).

Saat perpindahan itu, saya baru sadar kalau setiap mobil ATV Large akan disertai oleh satu orang staff jaga yang mengikuti perjalanan kita dengan menggunakan motor. Saya cukup salut disitu, tapi yang saya cukup bertanya-tanya apakah dia akan memarahi kita karena tukeran? Tapi ternyata tidak.

Mobil pun mulai berjalan, saat baru jalan, adik saya yang cewek mengeluhkan beratnya setirnya, bahkan ada satu belokan yang harus dibantu oleh pacar saya. Kami tertawa saling meledek. Semua berjalan lancar. Tanjakan kami lewati. Kemudian kami menuju turunan.

Di sinilah awal mula kejadian ini.

Pada saat turunan, di awal adik saya sambil ketawa-ketawa bilang dia kesulitan buat rem. Kami kira dia hanya bercanda. Namun kami rasakan di turunan kecepatan mobil bertambah (setelah kejadian menurut dia, karena panik dia menginjak gas bukan rem). Di saat turunan itu kami menjadi panik, adik cewek saya semakin panik karena dia bingung bagaimana harus mengerem, ditambah kepanikannya itu membuat dia makin tidak bisa berpikir.

Kecepatan makin kencang dan kami hampir sampai ujung turunan. Di ujung turunan itu kami harus berbelok ke kiri kalau tidak kami akan menghantam tembok batu. Disinilah mukjizat ketiga terjadi.

Secara ajaib, dalam kecepatan tinggi, adik saya bisa memutar stir yang berat itu dengan sangat lihai tanpa ada kendala.

*Kalau saja Tuhan tidak membelokkan mobil ini, akibat lebih fatal akan kami hadapi: kematian,minimal patah ataupun cacat. Karena saat itu kami turun dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan kami diperhadapkan dengan tembok dari susunan batu (seperti tembok pinggir kali).

Mobil pun berhasil dibelokkan.

Namun karena stir dibelokkan ke kiri dalam kecepatan tinggi, setelah dibelokkan kedua ban sebelah kiri terangkat cukup tinggi. Disinilah mukjizat keempat terjadi.

Secara ajaib, dalam kondisi mobil hampir terbalik, Tuhan kembalikan posisi mobil dengan keempat ban menapak jalanan aspal.

*Kalau saat itu mobil terbalik, kami semua akan saling menimpa di jalan aspal, dan terseret beberapa meter karena ban ATV yang besar dan mesin masih menyala. Kami semua bisa saja mengalami lecet/ luka bakar di sekujur tubuh karena gesekan.

Setelah mobil dikembalikan posisinya, masih dalam keadaan kencang, namun sudah lebih diperlambat akibat mobil dibelokkan, adik saya sudah kehilangan kendali, dan dijalanan turunan pendek yang lurus tersebut, setir mobil mengarah ke kiri, dan dalam keadaan serong, bagian sebelah kiri mobil menghantam tembok batu pembatas. Disinilah mukjizat keempat terjadi.

Dari pembatas tembok batu yang cukup panjang tersebut, ada beberapa area yang ditumbuhi ilalang. Dan tepat dibagian yang diisi ilalang-lah ATV kami menabrak tembok tersebut.

Saya tidak terlalu ingat apa yang terjadi dengan saya. Tapi yang jelas saya merasakan ada benturan keras menghantam tubuh dan mata saya (pandangan saya menjadi putih sesaat), kemudian saya sedikit terlempar keluar. Setelah terlempar keluar saya panik dan sangat khawatir dengan keadaan ketiga adik saya dan pacar saya. Tapi saya lebih khawatir dengan kondisi adik kecil saya. Adik cowok saya yang berada disamping saya berteriak-teriak memanggil nama raphael. Dalam keadaan mata sebelah kiri tertutup (saya belum tau apa yang terjadi, yang saya rasakan hanya basah di mata kiri saya), saya melihat adik saya memanjat keluar dari moncong ATV. Begitu saya lihat saya langsung menggendongnya, dan kemudian diambil oleh adik cowok saya. Ternyata adik kecil saya terlempar keluar hingga ke depan ATV.

Setelah saya mengoper adik kecil saya ke tangan adik cowok saya, baru saya merebahkan diri saya ke rumput, karena saya tidak bisa membuka mata kiri, dan rasanya sangat basah. Saya ingat pacar dan adik saya berteriak-teriak memanggil nama saya.

Tidak butuh waktu lama, motor patroli yang mengikuti kami langsung memapah saya, dan membonceng saya untuk langsung dilarikan ke klinik yang terletak persis di terminal awal kami naik ATV.

Sepanjang jalan saya hanya bisa menutup mata kiri saya dengan lemah, dan bersandar pada petugas patroli yang membonceng saya. Dibelakang saya (bertiga dimotor itu) pacar saya juga ikut membonceng. Sejak tabrakan sampai perjalanan turun saya cuma bisa berkata: "Mata, mata, mata". Saya sangat takut kalau saya menjadi buta, karena saat itu saya tidak bisa sama sekali membuka mata saya.

Sandra yang ikut dalam boncengan motor itu terus menerus menguatkan saya dengan menyanyikan lagu rohani. Saya belum tahu keadaan yang lainnya bagaimana.

Akhirnya sampai saya di terminal itu. Saya teringat saat melihat wajah kedua orang tua saya. Dimulai dengan ekpresi diam karena belum sadar itu saya, sampai mereka terbelalak, dan lari menghampiri saya.

Ekspresi wajah mereka sampai sekarang belum hilang dari ingatan saya. Saya tidak tega membuat mereka kaget seperti itu.

Saya pun dibawa masuk ke klinik kampung gajah, yang ternyata mereka tidak punya apa-apa didalamnya. Bahkan kapas atau kain kasa untuk mengelap darah saya pun tidak ada. Akhirnya saya dibaringkan di ranjang klinik, ibu saya berusaha membersihkan darah yang terus mengalir dari wajah saya. Saya terus bertanya bagaimana kondisi mata saya. Seorang staff klinik mencoba membersihkan mata saya yang penuh darah, kemudian menyuruh saya membuka mata. Puji Tuhan! Walau sedikit, tapi saya bisa membuka mata saya dan melihat. Saya sedikit lebih tenang. Sambil menunggu mobil yang akan mengantarkan saya ke UGD, saya terus berdoa, dan pacar saya terus menyanyikan lagu rohani di samping saya.

Tidak lama adik-adik saya pun datang. Dalam keadaan tergeletak, gemetaran, dan menahan sakit saya menanyakan keadaan mereka satu persatu. Puji Tuhan, tidak ada yang mengalami luka parah ataupun patah. Hanya adik cewek saya yang hidungnya memar dan bibirnya berdarah karena terbentur setir, dan luka goresan di pergelangan tangan karena jam, dan di kaki. Sandra hanya memar-memar sedikit di paha. Dan mukjizat kelima pun terjadi. Adik kecil saya yang terlempar, TIDAK mengalami luka ataupun memar SEDIKITPUN. Adik cowok saya sempet mengetes dengan menyentuh setiap bagian tubuhnya sambil bertanya sakit atau tidak, kemudian memegang dan memeriksa kepalanya, dan kemudian menyuruhnya berlari, dan lompat. TIDAK ada masalah!

Tidak lama kemudian datang mobil innova milik Kampung Gajah, saya pun dipapah masuk kedalam dengan keadaan wajah dan tangan masih berlumuran darah.

Dimobil ada saya, adik cewek saya, pacar saya, ibu saya, 1 pengurus kampung gajah, beserta supirnya.

Kami tidak tau saya akan dibawa kemana, tapi sekilas saya mendengar mereka membawa saya ke sebuah rumah sakit di lembang, untuk mempersingkat waktu. Karena RS Hasan Sadikin yang cukup besar ada di daerah cihampelas, dan butuh waktu lama plus macet untuk sampai sana.

Kami pun sampai. Ternyata itu hanya puskesmas. Saya pun dibersihkan lukanya, disuntik tetanus, dan karena mereka hanya puskesmas kecil, mereka hanya bisa menutupi luka saya yang ternyata ada beberapa sobekan di wajah dengan perban. Dokter tersebut memeriksa mata saya, dan menurutnya tidak apa-apa. Dia melihat ada beberapa luka sobekan di wajah kiri dekat mata, dan bengkak di mata dan wajah karena terkena benturan. Dia juga melihat bahwa ada beberapa jaringan kulit yang hilang dari wajah saya. Dokter jaganya memberikan kami surat rujukan, dan menyarankan kami turun ke kota bandung untuk bisa segera dijahit karena ditempat tersebut tidak berani menjahit muka saya yang lukanya, menurut sang dokter, cukup menyeramkan.

Akhirnya setelah mempertimbangkan dan menghubungi dokter langganan kami di jakarta, kami putuskan untuk langsung menuju Jakarta, asalkan waktu dari mulai kejadian sampai dijahit masih kurang dari 6 jam. Jika lebih dari 6 jam, jaringan-jaringan lainnya di wajah saya bisa mati dan sulit recovery.

Singkat cerita saya akhirnya dibawa ke Jakarta, masuk ke UGD RS Mitra Keluarga Jatinegara dengan waktu perjalanan 4 jam. Disitu saya dijahit, ada sekitar lebih dari 5 jahitan, dan 15 luka memar dan lecet disekitar tubuh. Ada beberapa luka sobek disekitar mata dan hidung yang tidak dijahit karena terlalu dekat dengan syaraf2 mata. Dokter yang membedah saya juga mengatakan hal yang sama kalau luka saya compang camping, dan ada jaringan wajah yang hilang sehingga harus sedikit menarik bagian wajah saya yang lain untuk bisa menutupinya. Saya baru menyadari kalau luka sobek diwajah saya mayoritas disebabkan oleh karena kacamata yang menekan ke wajah saya. Selain itu adik saya menemukan ada sobekan jaringan kulit saya yang tertinggal di kacamata saya.

Tapi diatas semuanya, saya bersyukur. Seperti kata pacar saya, Tuhan telah memperpanjang waktu hidup kami. Mukjizat demi mukjizat Tuhan lakukan, hingga tidak ada kondisi terburuk yang kami terima.

Kondisi saya pun setelah diperiksa ke dokter mata, beliau mengatakan mata saya SEHAT tidak kenapa-kenapa. Dan hari jumat saya kembali mengunjungi dokter bedah umum untuk membuka jahitan dan melepas perban, dokter tersebut mengatakan kondisi wajah saya bagus, walaupun lukanya compang camping, dan karena luka sobeknya terletak di muka, akan cepat pulih dan tidak terlalu meninggalkan banyak bekas luka.

Saya baru ingat, mukjizat pertama sebenarnya dimulai saat papa mama saya menolak untuk ikut naik dan gantian dengan kami. Itu mukjizat pertama dalam kejadian ini :)

Ini foto-foto saya selama 'masa-masa' ini. Jika tidak kuat melihatnya, boleh di skip :)

Ini foto waktu saya pertama sampai di puskesmas.


Ini saat dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Perban dimata saya semakin merah, karena luka sobek saya terus mengeluarkan darah.

Ini saat sudah sampai di UGD RS Mitra Keluarga, sudah dibersihkan, dan baru akan dijahit


Ini muka saya setelah dijahit :)


Ini saat saya dibuka jahitannya


Saya kehabisan kata-kata, untuk menggambarkan kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup saya dan keluarga saya. Tuhan ijinkan saya untuk merayakan ulang tahun saya yang ke-24, keesokan harinya, bersama keluarga saya, LENGKAP dan UTUH :)


Sebelum saya memutuskan untuk membuat kesaksian ini, Tuhan ingatkan saya lewat lagu "Healer" yang dinyanyikan oleh Hillsong. Berikut liriknya :)

You hold my every moment

You calm my raging seas

You walk with me through fire

And heal all my disease

I trust in You

I trust in You

I believe You're my Healer

I believe You are all I need

I believe You're my Portion

I believe You're more than enough for me

Jesus You're all I need

Bridge:

Nothing is impossible for You

Nothing is impossible for You

Nothing is impossible for You

You hold my world in Your hands

Lagu yang sangat simple. Tapi sangat menguatkan saya saat ini. Kekhawatiran saya sebagai manusia, adalah wajah saya akan meninggalkan bekas yang membuat wajah saya tidak lagi sempurna. Apalagi tahun depan kalau Tuhan mengizinkan, saya dan pacar saya akan melangsungkan pernikahan. Tapi lagu ini sudah cukup jelas menyatakan:

I believe You're my Healer

I believe You are all I need

I believe You're my Portion

I believe You're more than enough for me

Jesus You're all I need

Nothing is Impossible for You


*Saya sertakan videonya :)


Jikalau bukan karena Tuhan, saat ini mungkin saya sedang tergeletak dirumah sakit bersama adik-adik saya, atau diatas kursi roda, atau bahkan terbujur kaku di Peti Jenazah. Tapi mukjizat itu ada, dan akan selalu ada, bagi setiap kita yang mengandalkan Tuhan.

"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya"

Mazmur 37:23-24

Terima kasih Tuhan Yesus. Engkau Baik. Engkau cukup bagiku. Dan tiada yang mustahil bagimu. I believe :)

Jakarta, 20 Februari 2011

Reza Aryabima

Only by His Grace

Tidak ada komentar:

Posting Komentar