Minggu, 28 April 2013

Social Media : Yeay or Nay?


Punya koin kan? Rp. 100 kek, Rp. 200 kek, Rp. 500 kek, atau bahkan Rp. 1,000, coba kamu cek, ada berapa sisi-nya? Kalau lebih dari dua, kemungkinan besar itu koin palsu, hehehe. Koin selalu punya 2 sisi. Begitupun dengan manusia, selalu dihadapkan dengan dua sisi kehidupan. Kuliah atau tidak, pacaran atau tidak, tidur atau tidak, pro atau kontra, menolak atau menyetujui, termasuk judul artikel ini, social media: yeay (ya) or nay (tidak)?


Kenapa judul tulisan ini seperti itu? Karena sama seperti koin, ada dua pihak yang memiliki pendapat masing-masing menyikapi social media yang lagi booming banget saat ini. Ada yang bilang social media itu nay (tidak)! Karena membawa dampak buruk buat kita. Tapi ada yang bilang social media itu yeay (ya)! Karena membawa dampak positif buat kita. Masih banyak lagi opini lainnya yang bisa memperkuat salah satu pihak. Jadi sebenarnya, social media itu Yeay atau Nay sih?

Untuk membahas soal hal ini, kita agak mundur kebelakang sedikit yuk. Siapa disini yang punya telepon genggam alias handphone? Rasanya sih hampir semua punya ya, dengan harga Rp. 200,000 aja kamu sudah bisa punya sebuah handphone CDMA (biasanya Esia ya, hehehe).  Telepon atau telepon genggam amat sangat mempermudah hidup kita dalam berhubungan dengan orang-orang terdekat. Ga cuma itu aja, sudah tidak terhitung berapa banyak perjanjian (entah bisnis, politik, dsb.) yang tercipta diawali dengan pembicaraan via telepon. Tapi tau kah kamu kalau di tahun 1876, Western Union (sebuah perusahaan jasa pengiriman uang di Amerika) pernah mengeluarkan sebuah memo internal, yang berisikan pernyataan yang menolak penggunaan telepon dengan alasan bahwa ‘telepon memiliki terlalu banyak kekurangan untuk dipertimbangkan secara serius sebagai sarana komunikasi’. Sebuah pernyataan penolakan yang ternyata terbukti sebaliknya! Hari gini kalau ga bawa handphone rasanya ada yang hilang. Betul apa betul?

Trus apa hubungannya telepon sama social media? Sekarang ini social media seperti telepon pada jaman awal penciptaan, it’s NEW. Barang baru yang asing, yang dipercaya bisa membawa perubahan besar pada hidup seseorang. Jadi ga heran kalau ada sisi orang-orang yang takut, khawatir, bahwa dampak dari sebuah penemuan akan sangat tidak terkendali, dan merubah orang-orang yang kita sayangi menjadi orang yang sangat berbeda karena membawa pengaruh negatif.

Let’s put it this way, bagi kamu apakah telepon itu membawa dampak baik atau buruk? Buat mereka yang terpisah jarak dengan orang yang disayangi tentu telepon membawa dampak yang sangat positif karena bisa melepas rindu walau hanya lewat suara (tsaaah bahasanya :P). Tapi tahukah kamu bahwa ada (cukup banyak) pasangan suami istri yang bercerai gara-gara salah satu pihak suka telepon-an dengan selingkuhannya? Atau tahukah kamu ada banyak orang yang harus kehilangan banyak uang karena aksi penipuan yang cukup dilakukan melalui telepon padahal sang pelaku berada di lokasi yang sangat jauh dengan sang korban? Jadi balik lagi ke pertanyaannya, apakah telepon membawa dampak baik atau buruk? Jawabannya: tergantung yang menggunakan. Betul apa betul? Emang salah si telepon kalau suami istri bercerai? Apa yang melakukan penipuan itu sang Telepon? Tentu tidak.

Begitupun social media. Seperti namanya sendiri, social media hanyalah MEDIA (medium, wadah, tempat, saluran) untuk berSOSIALisasi. Sama seperti sebuah gelas. Kalau sebuah gelas diisi air kotor, apa yang kamu lihat? Jijik, jorok, buruk, dan lain sebagainya. Tapi kalau gelas diisi air minum jernih, apa yang kamu lihat? Bersih, segar, menyehatkan. Social Media itu, seperti Facebook, Twitter, Path, Pinterest, Instagram, 9gag, etc., disebut sebagai user-generated content media. Media yang content (isi-nya) di-generate (dihasilkan) oleh si user (penggunanya)!

Jadi apakah social media berbahaya (nay) atau tidak (yeay)? Tergantung pada siapa user-nya, alias penggunanya! Kalau kita membiarkan gelas kita diisi terus menerus sama air kotor, ya kita akan melihat gelas sebagai hal yang menjijikan. Tapi kalau kita menolak gelas kita diisi dengan air kotor, dan memilih untuk mengisi sendiri dengan air minum yang bersih, kita akan melihat gelas sebagai wadah atau sarana yang membawa kebaikan buat kita, yaitu air minum yang bersih dan menyehatkan.



Kalau kamu memfollow orang-orang yang suka berkata-kata kotor di social media, tinggal tunggu waktu kamu akan ikut berkata-kata kotor. Karena kata-kata kotor akan jadi hal yang biasa untuk kamu. Kalau kamu memfollow orang-orang yang terus menerus sayang-sayangan sama pacarnya di social media, lama-lama hidup rasanya hampa kalau ga punya pacar (tsaaaaahh). Tapi kalau kamu memfollow orang-orang yang sering berbagi ayat-ayat firman Tuhan, lama-lama ayat-ayat firman Tuhan itu akan terngiang-ngiang di telinga kamu dan jadi teringat-ingat terus. Ingat kan Roma 10:17 yang bilang kalau iman itu timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan?

Kalau kamu jengah alias muak dengan banyak-nya kata kotor bertebaran di timeline twitter kamu, atau dengan banyak-nya kalimat-kalimat galau ga penting dari orang-orang yang putus cinta, atau bahkan prinsip-prinsip hidup yang bertentangan dengan firman Tuhan, itu artinya saatnya kita bergerak ‘membersihkan’ social media dari hal-hal yang sia-sia, dan menggantikan dengan hal-hal yang menjadi berkat. Stop terima air kotor di gelasmu, dan gantikan dengan air bersih yang menyehatkan.

Baik atau buruknya pengaruh dari social media, ditentukan dari apa yang kita pilih untuk kita terima, dan ditentukan dari apa yang kita hasilkan melalui social media.”

So, social media, is it Yeay or Nay? The answer is in your hands.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar