Punya koin kan? Rp. 100 kek, Rp.
200 kek, Rp. 500 kek, atau bahkan Rp. 1,000, coba kamu cek, ada berapa
sisi-nya? Kalau lebih dari dua, kemungkinan besar itu koin palsu, hehehe. Koin
selalu punya 2 sisi. Begitupun dengan manusia, selalu dihadapkan dengan dua
sisi kehidupan. Kuliah atau tidak, pacaran atau tidak, tidur atau tidak, pro
atau kontra, menolak atau menyetujui, termasuk judul artikel ini, social media: yeay (ya) or nay (tidak)?
Kenapa judul tulisan ini seperti
itu? Karena sama seperti koin, ada dua pihak yang memiliki pendapat
masing-masing menyikapi social media yang lagi booming banget saat ini. Ada yang bilang social media itu nay
(tidak)! Karena membawa dampak buruk buat kita. Tapi ada yang bilang social
media itu yeay (ya)! Karena membawa dampak positif buat kita. Masih banyak lagi
opini lainnya yang bisa memperkuat salah satu pihak. Jadi sebenarnya, social
media itu Yeay atau Nay sih?
Untuk membahas soal hal ini, kita
agak mundur kebelakang sedikit yuk. Siapa disini yang punya telepon genggam
alias handphone? Rasanya sih hampir
semua punya ya, dengan harga Rp. 200,000 aja kamu sudah bisa punya sebuah
handphone CDMA (biasanya Esia ya, hehehe).
Telepon atau telepon genggam amat sangat mempermudah hidup kita dalam
berhubungan dengan orang-orang terdekat. Ga cuma itu aja, sudah tidak terhitung
berapa banyak perjanjian (entah bisnis, politik, dsb.) yang tercipta diawali
dengan pembicaraan via telepon. Tapi tau kah kamu kalau di tahun 1876, Western
Union (sebuah perusahaan jasa pengiriman uang di Amerika) pernah mengeluarkan
sebuah memo internal, yang berisikan pernyataan yang menolak penggunaan telepon
dengan alasan bahwa ‘telepon memiliki terlalu banyak kekurangan untuk
dipertimbangkan secara serius sebagai sarana komunikasi’. Sebuah pernyataan
penolakan yang ternyata terbukti sebaliknya! Hari gini kalau ga bawa handphone
rasanya ada yang hilang. Betul apa betul?
Trus apa hubungannya telepon sama
social media? Sekarang ini social media seperti telepon pada jaman awal
penciptaan, it’s NEW. Barang baru yang asing, yang dipercaya bisa membawa
perubahan besar pada hidup seseorang. Jadi ga heran kalau ada sisi orang-orang
yang takut, khawatir, bahwa dampak dari sebuah penemuan akan sangat tidak
terkendali, dan merubah orang-orang yang kita sayangi menjadi orang yang sangat
berbeda karena membawa pengaruh negatif.
Let’s put it this way, bagi kamu
apakah telepon itu membawa dampak baik atau buruk? Buat mereka yang terpisah
jarak dengan orang yang disayangi tentu telepon membawa dampak yang sangat
positif karena bisa melepas rindu walau hanya lewat suara (tsaaah bahasanya
:P). Tapi tahukah kamu bahwa ada (cukup banyak) pasangan suami istri yang
bercerai gara-gara salah satu pihak suka telepon-an dengan selingkuhannya? Atau
tahukah kamu ada banyak orang yang harus kehilangan banyak uang karena aksi
penipuan yang cukup dilakukan melalui telepon padahal sang pelaku berada di
lokasi yang sangat jauh dengan sang korban? Jadi balik lagi ke pertanyaannya,
apakah telepon membawa dampak baik atau buruk? Jawabannya: tergantung yang
menggunakan. Betul apa betul? Emang salah si telepon kalau suami istri
bercerai? Apa yang melakukan penipuan itu sang Telepon? Tentu tidak.
Begitupun social media. Seperti namanya
sendiri, social media hanyalah MEDIA (medium, wadah, tempat, saluran) untuk
berSOSIALisasi. Sama seperti sebuah gelas. Kalau sebuah gelas diisi air kotor,
apa yang kamu lihat? Jijik, jorok, buruk, dan lain sebagainya. Tapi kalau gelas
diisi air minum jernih, apa yang kamu lihat? Bersih, segar, menyehatkan. Social
Media itu, seperti Facebook, Twitter, Path, Pinterest, Instagram, 9gag, etc., disebut
sebagai user-generated content media. Media
yang content (isi-nya) di-generate (dihasilkan) oleh si user (penggunanya)!
Jadi apakah social media
berbahaya (nay) atau tidak (yeay)? Tergantung pada siapa user-nya, alias penggunanya! Kalau kita membiarkan gelas kita diisi
terus menerus sama air kotor, ya kita akan melihat gelas sebagai hal yang
menjijikan. Tapi kalau kita menolak gelas kita diisi dengan air kotor, dan
memilih untuk mengisi sendiri dengan air minum yang bersih, kita akan melihat
gelas sebagai wadah atau sarana yang membawa kebaikan buat kita, yaitu air
minum yang bersih dan menyehatkan.
Kalau kamu memfollow orang-orang
yang suka berkata-kata kotor di social media, tinggal tunggu waktu kamu akan
ikut berkata-kata kotor. Karena kata-kata kotor akan jadi hal yang biasa untuk
kamu. Kalau kamu memfollow orang-orang yang terus menerus sayang-sayangan sama
pacarnya di social media, lama-lama hidup rasanya hampa kalau ga punya pacar
(tsaaaaahh). Tapi kalau kamu memfollow orang-orang yang sering berbagi
ayat-ayat firman Tuhan, lama-lama ayat-ayat firman Tuhan itu akan
terngiang-ngiang di telinga kamu dan jadi teringat-ingat terus. Ingat kan Roma
10:17 yang bilang kalau iman itu timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan?
Kalau kamu jengah alias muak
dengan banyak-nya kata kotor bertebaran di timeline twitter kamu, atau dengan
banyak-nya kalimat-kalimat galau ga penting dari orang-orang yang putus cinta,
atau bahkan prinsip-prinsip hidup yang bertentangan dengan firman Tuhan, itu
artinya saatnya kita bergerak ‘membersihkan’ social media dari hal-hal yang
sia-sia, dan menggantikan dengan hal-hal yang menjadi berkat. Stop terima air
kotor di gelasmu, dan gantikan dengan air bersih yang menyehatkan.
“Baik atau buruknya pengaruh dari social media, ditentukan dari apa yang kita pilih untuk kita terima, dan ditentukan dari apa yang kita hasilkan melalui social media.”
So, social media, is it Yeay or Nay? The answer is in your
hands.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar